Arsitektur Masjid Saka Tunggal

Arsitektur Masjid Saka Tunggal Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah terdapat empat buah sayap kayu di bagian tengah saka. Empat sayap yang melekat pada saka melambangkan “lima pancer qibla”, atau empat titik mata angin dan satu pusat. Papat qibla lima pancer artinya pancer manusia yang dikelilingi oleh empat mata angin yang melambangkan api, angin, air dan bumi. Saka tunggal melambangkan bahwa orang yang hidup ini, seperti alif, haruslah lurus.

Jangan bengkok, jangan nakal, jangan bohong. Kalau bengkok, itu bukan manusia lagi. Keempat poin utama ini berarti bahwa kehidupan manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air jika tidak ingin tenggelam, jangan terlalu banyak angin jika tidak ingin masuk angin, jangan bermain api terlalu banyak jika tidak ingin terbakar dan jangan terlalu banyak menyembah bumi jika Anda tidak ingin jatuh. “Hidup harus seimbang,”

Lima pancer qibla sama dengan empat nafsu yang ada pada manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Jawa-Islam sering digambarkan dalam istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu menentang dan mempengaruhi kodrat manusia.

Keaslian yang masih dipertahankan adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar dakwah dan imamat. Ada dua ukiran kayu yang menggambarkan sinar matahari yang menyerupai lempengan mandala. Gambar seperti ini dapat ditemukan pada bangunan kuno di zaman Singasari dan Majapahit.

Kekhasan lainnya adalah atap ijuk berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan pada atap candi di zaman Majapahit atau tempat peribadatan umat Hindu di Bali. Tempat wudhu juga bernuansa awal didirikan meski temboknya sudah diganti dengan tembok. Sejak tahun 1965 masjid ini telah dua kali direnovasi. Selain tembok, mereka juga diberi tembok anyaman bambu dan atap seng. Meski sebagian tembok telah direnovasi dengan tembok, arsitektur masjid tetap tidak berubah. Sehingga tidak ada perbedaan bentuk yang berarti dari dulu sampai sekarang.

Sedangkan pilar kayu jati yang menopang bangunan utama masjid masih terlihat kokoh. Selama ratusan tahun berdiri, warga dan jemaah di Cikakak belum mengganti bangunan induk di tempat itu, kecuali hanya membangun tembok di sekeliling masjid sebagai penopang. Barang-barang lain yang masih tertata rapi dan terawat antara lain kendang, kentongan, mimbar masjid, tongkat sholat dan tempat wudhu.

Selain Masjid Saka Tunggal, banyak juga masjid-masjid di Indonesia yang megah dan menawan. Tetapi perlu diketahui bahwa masih banyak juga masjid-masjid di Indonesia yang memerlukan perhatian dari kita karena tidak layak maupun yang didaerahnya tidak terdapat masjid untuk beribadah bersama, kita bisa membantu meringankan beban mereka dengan cara menyisihkan rezeki kita untuk pembangunan masjid-masjid di daerah terpencil melalui yayasan masjid pedesaan yang membantu kita mengumpulkan dana untuk langung membantu saudara kita didaerah terpencil di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *